Jump to Comments
Silang pendapat berkepanjangan, bagaikan menemukan mana yang duluan “telor atau ayam”. Begitulah kira-kira silang pendapat antara sesama pakar, diramaikan para politisi dan indutriawan. (dalam artikel “Food scientists say stop biofuels to fight world hunger” yang diterbitkan oleh Newspine.com.
Beberapa top international food scientists merekomendasikan penghentian penggunaan dari food-based biofuels, seperti ethanol, dikatakan akan mengurangi harga jagung sebanyak 20 persen selama masa krisis makanan dunia.Tetapi bahkan waktu ilmuwan sedang meminta suatu penangguhan, President Bush menghimbau sebaliknya. Ia mengumumkan Amerika Serikat perlu meningkatkan penggunaan ethanol oleh karena keamanan energi nasional dan harga gas yang tinggi.
Pertentangan pesan menjadi debat berkepanjangan antara kebutuhan pangan dan bahan bakar.

Tiga ilmuwan senior yang bergabung dalam suatu riset internasional mendorong suatu penangguhan program biofuel, dikatakan mereka harus memikirkan kembali program yang mengalihkan makanan seperti jagung dan kacang kedelai ke dalam bahan bakar, yang diberi berkembang krisis makanan yang di seluruh dunia. Kelompok ini adalah CGIAR, adalah suatu jaringan global yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk menentang kelaparan. Itu dibiayai oleh beberapa negara dan pribadi.
“Jika negara-negara terkemuka menghentikan penggunaan biofuel tahun ini, itu akan mendorong turunnya harga jagung sekitar 20 persen dan gandum sekitar 10 persen pada tahun 2009-2010″, kata Joachim von Braun. Ia memimpin International Food Policy Research Institute di Washington, pengambil kebijakan di CGIAR.
Hanya,….. seberapa besar efek penggunaan biofuel pada harga makanan ? Ini tergantung pada siapa yang bicara.
Presiden Bush mengatakan hanya sekitar 15 persen. Departemen Pertanian (juru bicara,Keith William) mengatakan sampai 20 persen.
Food Policy Research Institute analysis mengatakan bahwa kebijakan ini telah menaikkan harga sebesar 30 % (analisa tahun 2000-2007)
Suatu studi yang dibiayai oleh para industriawan, mengatakan hanya 4 persen.
Matt Hartwig, juru bicara Renewable Fuels Association mangatakan “Dunia pertanian dapat mengatasi kedua-duanya, makanan dan bahan bakar”
Marilah kita lihat apa yang dikatakan oleh mereka :
Seberapa besarkah pengaruhnya terhadap persoalan pangan dan bahan bakar kita di Indonesia, barangkali ini akan menimbulkan silang pendapat yang baru lagi.
Tinggalkan Balasan
You must be logged in to post a comment.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.